Kita mungkin pernah merasa sangat yakin dengan persahabatan kita. Merasa sangat dekat dengan seseorang yang kita sebut sebagai sahabat. Merasa sangat ingin menghabiskan waktu kita selalu dengan dia. Merasa tidak ada yang lain sebaik dia. Kita pasti pernah bukan?
Disini, aku hanyalah manusia biasa. Tak bisa hidup seorang diri. Selalu mencari sosok yang sahabat sejati. Namun, di hari ini, hatiku telah dipatahkan oleh sahabatku sendiri. Oleh orang yang aku kira mengerti aku lebih dari siapapun.
Mungkin bukan niat dan maksudnya membuatku begitu terluka. Mungkin dia juga tidak tahu bahwa aku terluka. Mungkin dia hanya sedang terlalu asyik dengan dunianya. Hingga lupa akan diriku. hingga tak perduli keberadaanku, hingga tak sadar akan adanya aku.
Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan? menganggap dia adalah orang yang paling memahami aku? Tapi nyatanya dia tak paham! Dia memilih bersama orang yang aku benci disaat aku menangis? tertawa bersama orang yang aku benci disaat aku terpuruk? aku sungguh kecewa.
kepadamu yang terlanjur aku sayangi, aku kecewa kau telah menganggap aku tiada
Disini, aku hanyalah manusia biasa. Tak bisa hidup seorang diri. Selalu mencari sosok yang sahabat sejati. Namun, di hari ini, hatiku telah dipatahkan oleh sahabatku sendiri. Oleh orang yang aku kira mengerti aku lebih dari siapapun.
Mungkin bukan niat dan maksudnya membuatku begitu terluka. Mungkin dia juga tidak tahu bahwa aku terluka. Mungkin dia hanya sedang terlalu asyik dengan dunianya. Hingga lupa akan diriku. hingga tak perduli keberadaanku, hingga tak sadar akan adanya aku.
Atau mungkin aku yang terlalu berlebihan? menganggap dia adalah orang yang paling memahami aku? Tapi nyatanya dia tak paham! Dia memilih bersama orang yang aku benci disaat aku menangis? tertawa bersama orang yang aku benci disaat aku terpuruk? aku sungguh kecewa.
kepadamu yang terlanjur aku sayangi, aku kecewa kau telah menganggap aku tiada




